Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” (2)

Dosen Ilmu Komunikasi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Argo Twikromo, menjelaskan bahwa mahar sejak awal tidak berdiri sebagai urusan ekonomi semata.

“MAHAR itu kan sebuah relasi atau ikatan keluarga laki-laki dengan keluarga perempuan. Bukan hanya individu laki-laki dan perempuan loh ya. Karena untuk mahar itu kan sebenarnya adalah kekerabatan,” ulasnya, dilansir Konde.co.

Dalam banyak masyarakat di Indonesia, pernikahan merupakan proses sosial penyatuan jaringan keluarga besar. Maka, mahar berfungsi sebagai simbol penghormatan. Di Sumba, NTT misalnya, dikenal istilah belis yang dimaknai di sana sebagai pengganti air susu. Artinya, pemberian tersebut menjadi pengakuan atas peran, pengorbanan, dan nilai perempuan dalam keluarga asalnya.

“Sebenarnya esensinya itu untuk meninggikan perempuan. Mahar itu sebetulnya lebih pada pengganti air susu. Artinya perempuan ini ada penghormatan, dia masuk ke kerabat laki-laki,” urai Argo.

Selain itu, katanya, makna simbolik mahar kemudian perlahan bergeser ketika pernikahan mulai dibaca menggunakan kacamata ekonomi. Uang menjadi ukuran utama nilai seseorang. Kerja publik yang menghasilkan materi dihargai, sementara kerja domestik perempuan sering dianggap tidak bernilai karena tidak menghasilkan uang.

“Karena ekonomi itu cukup kuat sekarang, akhirnya dianggap itu membeli perempuan. Kita sebenarnya terpeleset karena perkembangan sekarang ujung tombaknya ekonomi politik,” ungkap Argo.

Ketika uang menjadi ukuran nilai, siapa yang membayar merasa berhak. “Akhirnya justru sebaliknya, si perempuan dibeli sehingga setelah dibeli itu disuruh apa-apa harus mau, harus menurut dan lain sebagainya,” tambahnya.

Lantas, apa hubungannya dengan tren “unboxing mahar” di TikTok? Tren tersebut melecehkan dan merendahkan martabat perempuan atas nama “humor” yang tidak lucu sama sekali. Mahar yang seharusnya menjadi simbol penghormatan terhadap perempuan menjadi hilang arah maknanya.

Bagi Argo, persoalannya bukan sekedar soal candaan. “Karena namanya mahar atau beli-beli, dan ketika sudah dibeli perempuan itu ya bisa diperlakukan apa saja. Ada konotasi pemikiran seperti itu,” ucapnya.

Logika ini, ketika terus diulang maka lama-lama akan dianggap wajar. “Kesalahan yang diulang-ulang nanti menjadi suatu kebenaran. Itu yang disebut post-truth,” ujarnya.

Seperti tren ini, perempuan terus-menerus ditampilkan sebagai objek, bukan subjek yang utuh. Lama-lama publik akan terbiasa melihatnya demikian. Maka rantai patriarki dan misogini semakin sulit diputus.

Ia mencontohkan, humor bisa dipakai untuk membongkar ketimpangan, bukan menertawakannya. Sayangnya, dalam tren ini, humor justru bekerja sebaliknya: untuk mengukuhkan posisi laki-laki sebagai penilai dan perempuan sebagai yang dinilai.

Dalam tren tersebut, anatomi perempuan bekerja seperti etalase. Ia tidak menampilkan perempuan sebagai manusia yang utuh dengan kehendak, pengalaman, dan suara, melainkan sebagai sesuatu yang “dinilai”. (bersambung/dulce maria bella natalie/konde.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button