Tren TikTok “Di Balik Foto Ini”: Fakta Pahit Eksploitasi Perempuan Pekerja Muda

"Gajinya kecil, tapi makannya di resto mahal. Makanya miskin terus." Komentar seperti ini sering muncul ketika melihat perempuan muda dengan gaji pas-pasan memposting foto di kafe estetik. Tapi pandangan itu terlalu simplistik.

KALIMAT itu kini memenuhi linimasa TikTok. Pada slide pertama, ada perempuan muda yang tampak bahagia dengan outfit keren di tempat estetik. Lalu, jika digeser ke slide kedua, muncul ‘sisi lain mereka’ di toko obat kecil, sambil menggendong anak majikan, atau di tempat jual aksesoris handphone. Teksnya rata-rata berisi penjelasan semacam, “Ada aku yang kerja 10 jam per hari, demi gaji 1,5 juta sebulan.”

Foto pertama bukan kebohongan. Ia memang pergi ke tempat itu, makan di sana, dan merasakan kebahagiaan sesaat. Tapi foto kedua juga merupakan kebenaran. Foto kedua menjelaskan kalau kebahagiaan di foto pertama dibeli dengan kerja yang mengeksploitasi tubuh dan waktu.

Dalam dua foto tersebut, mereka memperlihatkan dua dunia yang bertolak belakang: dunia yang “layak ditampilkan” dan yang “tak layak difoto”. Dengan menampilkannya berdampingan, mereka seolah berkata: “Lihat hal yang harus aku lalui supaya bisa foto di tempat bagus seperti ini.”

Fenomena ini sering dipandang secara sinis. Orang-orang kerap merespon, “Gajinya kecil, tapi makannya di resto mahal.” Tapi pandangan itu terlalu simplistik.

(FOTO-FOTO: Ist)

Seperti ditulis Jean Baudrillard dalam The Consumer Society, konsumsi di era modern telah berubah menjadi bahasa penanda status. Tidak lagi soal kebutuhan akan fungsi produk, tetapi tentang tanda bahwa seseorang eksis, bahwa ia setara dengan yang lain. “Saya belanja, maka saya ada”. Dan algoritma media sosial memperkuat slogan ini dengan, “Kamu adalah apa yang kamu unggah”. Eksistensi atau jati diri seseorang diukur dan diekspresikan melalui barang dan jasa yang dikonsumsi.

Individu mendefinisikan dirinya berdasarkan simbol status yang melekat pada objek yang mereka beli. Bagi pekerja muda bergaji rendah, tindakan itu menjadi strategi eksistensial, cara untuk tetap merasa berharga di dunia yang menilai manusia dari tampilannya. Apalagi bagi pekerja miskin kota. Kota yang kapitalis telah memvisualisasikan kemiskinan sebagai kegagalan sosial. Hakikat bekerja hanya diartikan bertujuan untuk konsumsi.

Makan di kafe estetik dan menunjukkannya di media sosial adalah upaya menampilkan diri sebagai bagian dari kelas sosial yang paham gaya kekinian dan punya selera kuliner yang bagus. Tindakan ini adalah upaya untuk menebus status sosial yang hilang akibat upah rendah. Di tengah ketidakmampuan memiliki modal ekonomi (gaji besar, tabungan), mereka beralih ke modal simbolik seperti penampilan dan pengalaman. Mereka mengonsumsi tanda-tanda kemakmuran karena akses kepada kemakmuran itu sendiri tertutup.

Lauren Berlant dalam Cruel Optimism memperkenalkan konsep yang sangat relevan untuk memahami tren ini. Ia mendefinisikan “cruel optimism” sebagai hubungan dengan objek keinginan yang sebenarnya menghalangi kemungkinan berkembang. Kita terus mengejar sesuatu yang kita pikir akan membuat hidup kita lebih baik, padahal pengejaran itu justru membuat kita terjebak.

Berlant menulis tentang “the good life fantasy” fantasi tentang kehidupan yang baik. Punya pekerjaan stabil, bisa membeli barang-barang bagus, punya waktu luang, merasa bahagia. Namun, dalam kapitalisme neoliberal, fantasi ini semakin sulit dicapai, terutama bagi kelas pekerja. Tapi kita terus mengejarnya. Kita terus bekerja keras, berharap suatu hari nanti kita bisa sampai di sana.

Berlant menulis, kita terus berusaha terlihat bahagia karena itu adalah satu-satunya cara untuk bertahan secara sosial. Tapi ini adalah optimisme yang kejam, karena ia membuat kita terus bertahan dalam kondisi yang sebenarnya merusak kita. Optimisme yang kejam ini adalah cara kapitalisme membuat kita bertahan tanpa memberontak.

Kita terus bekerja 12 jam sehari dengan gaji rendah, karena kita berharap suatu hari nanti kita bisa keluar dari situ. Tapi ternyata sistem tidak berubah. Upah tetap rendah. Jam kerja tetap panjang. Dan foto di restoran keren itu? Hanya memberi kelegaan sesaat sebelum pekerja kembali ke toko, ke kasir, untuk 12 jam berikutnya hari demi hari. (bersambung/ika ariani/konde.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button