Tren TikTok “Di Balik Foto Ini”: Perempuan dalam Kerja Panjang, Upah Rendah, dan Informalisasi
Yang perlu dipahami, tren ini terjadi dalam konteks yang lebih luas: krisis pekerjaan formal dan menjamurnya kerja informal. Data Badan Pusat Statistik (Februari 2024) mengungkap fakta 59,17% pekerja Indonesia. Setara dengan 84,13 juta orang berada di sektor informal.
KEBANGKITAN ekonomi digital malah memperparah kondisi ini. Banyak pekerja muda terjebak dalam pekerjaan informal seperti admin online shop, kasir, kurir, atau penjaga toko. Mereka bekerja tanpa kontrak jelas, bisa dipecat kapan saja, tidak punya BPJS Ketenagakerjaan, tidak ada tunjangan, tidak ada jaminan pensiun, dan tentu saja, tanpa upah layak.
Pekerja formal semakin langka. Perusahaan lebih suka mempekerjakan orang dengan status kontrak atau freelance untuk menghindari kewajiban memberi jaminan sosial. Akibatnya, generasi muda hari ini hidup dalam ketidakpastian ekonomi. Lapangan kerja memang banyak, tapi informal dan membuat pekerjanya tetap miskin meski bekerja sangat keras.
Sementara itu, banyak dari perempuan yang ikut tren ini bekerja di sektor informal seperti penjaga toko, kasir, admin online shop, atau asisten apotek. Pekerjaan mereka sering dilabeli tidak terampil (unskilled), padahal justru membutuhkan keahlian tinggi seperti komunikasi, kesabaran, ketelitian, multitasking, bahkan kemampuan digital.

Pekerjaan yang bisa dilatih cepat seperti cleaning service, penjaga toko atau resepsionis disebut unskilled, sehingga upahnya bisa ditekan. Tapi coba tanya, apakah resepsionis yang dengan sabar dan solutif menghadapi pelanggan yang marah-marah bukan disebut keterampilan? Apakah karyawan apotek yang harus mengingat ratusan jenis obat dan dosisnya bukan keterampilan?
Dalam teori Marxis, pembagian antara skilled dan unskilled labour adalah hasil rekayasa kapitalisme. Pekerjaan yang bisa dilatih cepat disebut unskilled, agar upahnya bisa ditekan sebagai alat pengendalian tenaga kerja. Dengan menyebut kerja perempuan muda ini sebagai unskilled, sistem meniadakan nilai keterampilan yang sebenarnya mereka miliki.
Dengan mendefinisikan suatu pekerjaan sebagai unskilled, kapitalis dapat membenarkan pembayaran upah yang lebih rendah, karena dianggap pengganti tenaga kerja tersebut mudah ditemukan dan tidak memerlukan investasi pelatihan yang besar. Pelabelan ini akhirnya membuat pekerja juga mengalami alienasi, dari produk kerjanya, dari hakikat dirinya, dan sesama manusia. Buruh dari sepatu ternama, belum tentu bisa membeli sepatu yang dia buat. Karyawan apotek yang melayani obat-obatan mahal tidak mampu membeli obat itu untuk dirinya sendiri ketika sakit.
Perempuan di balik foto itu bukan karyawan tidak terampil. Ia adalah pekerja yang menjalankan care work, pekerjaan yang menuntut keahlian emosional, ketelitian, dan stamina fisik. Tapi karena ia perempuan, dan karena pekerjaannya adalah pekerjaan “perempuan”, maka ia dianggap alami. Seperti yang ditulis Maria Mies dalam Patriarchy and Accumulation on a World Scale, kapitalisme bergantung pada kerja “murah” dan “alami” dari perempuan. Kerja perempuan yang dieksploitasi inilah yang menjadi landasan bagi akumulasi modal.
Tanpa kerja “murah” ini, biaya reproduksi tenaga kerja akan terlalu tinggi, dan keuntungan kapitalis tidak akan sebesar itu. Kerja di sektor publik (seperti toko) diupah rendah karena dianggap sebagai perpanjangan dari peran domestik dan perawatan “alami” perempuan. Sementara itu, kerja reproduktif mereka di rumah (merawat keluarga, membersihkan rumah) sama sekali tidak diakui dan tidak dibayar. Penyebutan “unskilled” adalah bentuk devaluasi terhadap kerja-kerja yang banyak dilakukan oleh perempuan muda. (bersambung/ika ariani/konde.co)



