Lipstick Effect: Bagaimana Terjadi di Indonesia?

Di Indonesia, lipstick effect punya warna yang sedikit berbeda.

MESKI ekonomi beberapa tahun terakhir diwarnai inflasi, kenaikan biaya hidup, hingga ketidakpastian global, pola konsumsi masyarakat tetap bergerak. Banyak orang memilih menunda pembelian besar, tetapi tetap mengalokasikan uang untuk hal-hal kecil yang membuat mereka merasa lebih bahagia.

Fenomena ini paling terlihat di kalangan milenial dan Gen Z. Daripada membeli barang bernilai tinggi, mereka lebih sering mengeluarkan uang untuk kopi kekinian, skincare, makanan viral, konser, atau langganan platform streaming.

Dalam laporan McKinsey & Company berjudul The Beauty Industry Boom: Can Growth Be Maintained? dijelaskan bahwa konsumen muda di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, semakin mengutamakan produk yang memberikan pengalaman dan kepuasan emosional, meski tetap mempertimbangkan harga.

BERADAPTASI
Saat harga kebutuhan pokok naik, masyarakat Indonesia umumnya tidak langsung berhenti belanja. Mereka justru mengubah strategi. Misalnya, memilih promo di aplikasi pesan makanan, membeli produk lokal yang kualitasnya bagus tetapi lebih terjangkau, atau berburu diskon saat flash sale.

Tren ini ikut mendorong pertumbuhan banyak brand lokal, terutama di sektor kecantikan, fesyen, dan makanan. Konsumen merasa tetap bisa menikmati sedikit kemewahan tanpa harus menguras tabungan. Dari sinilah muncul istilah yang akrab di media sosial, seperti “healing tipis-tipis“ atau “self-reward”, yang perlahan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

TREN
Sulit dimungkiri, media sosial punya peran besar dalam memperkuat lipstick effect. TikTok, Instagram, hingga YouTube dipenuhi konten review, rekomendasi produk, haul, dan video “racun belanja” yang membuat barang sederhana terasa sangat menggiurkan.

Narasi seperti “cuma Rp50 ribuan, tapi kualitasnya bagus banget” atau “wajib checkout sebelum kehabisan” sering memicu rasa FOMO (Fear of Missing Out). Akibatnya, banyak orang membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkan, melainkan takut ketinggalan tren. Fenomena ini dibahas Deloitte berjudul Global Powers of Retailing 2025 yang menyoroti semakin besarnya pengaruh media sosial terhadap keputusan belanja konsumen, terutama generasi muda.

PRAKTIS
Perkembangan ekonomi digital di Indonesia juga ikut memperkuat fenomena ini. Kehadiran e-wallet, paylater, dan berbagai platform e-commerce membuat proses belanja hanya membutuhkan beberapa sentuhan di layar ponsel.

Di satu sisi, kemudahan ini memang membantu masyarakat mengakses berbagai produk. Namun, di sisi lain, transaksi digital juga membuat banyak orang kurang sadar terhadap jumlah uang yang sudah dikeluarkan. Apalagi ketika ada promo flash sale, cashback, gratis ongkir, atau diskon terbatas. Konsumen sering merasa sedang “berhemat”, padahal tetap mengeluarkan uang untuk barang yang sebenarnya belum tentu dibutuhkan.

Laporan Bank Indonesia dalam Laporan Perekonomian Indonesia juga menunjukkan bahwa meningkatnya penggunaan pembayaran digital dan belanja daring telah mengubah perilaku konsumsi masyarakat menjadi lebih cepat dan praktis, termasuk dalam keputusan pembelian sehari-hari. (kevin/magdalene.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button