Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” (1)
Tren "unboxing mahar" yang viral di TikTok tidak bisa dilihat sebagai hiburan ringan. Ia adalah objektifikasi sistematis yang merendahkan martabat perempuan dan menormalisasi kekerasan berbasis gender lewat humor seksis.
ADA sebuah tren yang sedang marak di platform TikTok. Di layar gawai, sebuah video dibuka dengan tulisan “PoV unboxing mahar 500 juta” atau nominal mahar pernikahan lainnya.
Kamera menjadi point of view seakan-akan adegan diambil dari selangkangan, otonomi paling intim perempuan dan menyorot wajah laki-laki yang menatap lurus ke lensa. Senyum sumringahnya tak lama berubah. Alisnya berkerut, hidungnya ditutup, mengekspresikan ‘pemandangan’ yang dilihatnya tidak sesuai dengan standar dan ekspektasinya.
Dalam video lain yang serupa, “mahar” yang dibuka justru disambut dengan senyum makin lebar, bahkan ditambahkan efek cahaya yang menerangi wajahnya. Video tren ini kemudian dibalut dengan lagu-lagu yang bernada lucu dan sering digunakan untuk video humor.
Lucu? Jika penontonnya adalah seorang misoginis yang menganggap perempuan hanya senilai “mahar”, atau seseorang yang kerap melontarkan lelucon seksis, mungkin iya baginya. Tapi tentu tidak lucu bagi orang yang punya perspektif gender dan kritis.
Format seperti ini ramai beredar di TikTok dan menjelma menjadi tren, kebanyakan dibuat oleh laki-laki. Ribuan komentar pun bermunculan menanggapi tren ini. Banyak yang kemudian murka dan mengekspresikan kekesalan mereka terhadap tren dan konten ini.
Komentar tegas seperti, “Pentingnya memilih lelaki yang berpendidikan,” serta, “Sexual jokes aren’t funny at all (lelucon seksual sama sekali nggak lucu),” adalah beberapa respon yang ditemui dari tren TikTok ini. Namun, tidak sedikit pula yang menertawakan konten tersebut, menganggapnya sekadar hiburan ringan yang tak perlu dipikirkan terlalu jauh.
Di ruang digital, batas antara lelucon dan penghinaan sering kali memang tampak tipis. Padahal, di balik kemasan humor, tren ini membawa problematika. Perempuan tidak hadir sebagai subjek yang utuh, melainkan direduksi sebagai objek, sudut pandang yang kosong dan bahan lelucon.
Mahar, yang dalam banyak budaya dimaknai sebagai simbol tanggung jawab dan penghormatan dalam pernikahan, perlahan kehilangan maknanya ketika ia dijadikan simbol objektifikasi perempuan. Di titik inilah martabat perempuan mulai tergeser oleh humor misoginis yang menempatkan perempuan sebagai bahan lelucon.
Kemudian, bagaimana mahar dimaknai dalam budaya? Satu hal yang menjadi ciri tren “unboxing mahar” di TikTok: selalu muncul nilai atau jumlah uang mahar. Ada yang menuliskan 500 juta, ada yang 80 juta, dan banyak lagi. Dengan nominal yang muncul, maka muncul pertanyaan, “Apakah mahar berarti membeli perempuan?”
Tidak ada catatan resmi kapan dan dari mana pertama kali mahar menjadi prasyarat pernikahan. Namun mahar diyakini sudah ada sejak zaman dulu kala. Mahar pun memiliki nama dan cara sendiri di tiap budaya. Seperti di daerah Kudus, Jawa Timur. Dulunya mahar harus berupa sapi atau kerbau yang melambangkan sebagai hewan pekerja dan menopang penghasilan. Sekarang bisa jadi wujud mahar berganti ke motor sebagai alternatif karena perkembangan zaman (Tasfiq dkk, 2022).
Indonesia memiliki beragam nama untuk menyebut mahar. Di Suku Bugis-Makassar ada “uang panai”, “belis” dari Nusa Tenggara Timur, “bowo” dari Nias, “jujuran” dari Banjar dan masih banyak lagi. Dengan nama dan jenis yang beragam ini mahar sejatinya memiliki nilai dan esensi yang sama. (bersambung/dulce maria bella natalie/konde.co)



