Legenda Pahlawan Perempuan dari Tanah Kalimantan: Ratu Zaleha
Kalimantan tidak hanya dikenal karena kekayaan alam dan keindahan budayanya, tetapi juga karena melahirkan sosok-sosok perempuan tangguh yang berperan penting dalam perjalanan sejarah bangsa.
MASING-MASING memiliki cerita yang berbeda, bagaimana cara mereka keberanian, keteguhan, serta semangat juang. Namun dari kisahnya, ada amanat dan warisan berharga yang telah mereka perjuangkan.
Rimbunnya hutan tropis di Kalimantan menyimpan kisah tentang perjuangan para perempuan yang luar biasa. Berikut kisahnya:
Ratu Zaleha adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Kalimantan Selatan (Kalsel) yang dikenal karena keberaniannya melawan penjajah Belanda pada masa Perang Banjar. Sebagai seorang wanita, ia telah menunjukkan perjuangan untuk kemerdekaan tidak hanya menjadi tugas kaum pria, tetapi juga melibatkan peran besar dari kaum perempuan.
Ratu Zaleha lahir pada 1880 di Muara Lawung, Kalsel. Ia adalah putri Sultan Muhammad Seman, sosok pemimpin yang juga dikenal sebagai pejuang gigih melawan penjajah, serta cucu dari Pangeran Antasari, salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Latar belakang keluarganya yang penuh semangat perjuangan memengaruhi Ratu Zaleha dalam mengambil peran besar di masa perang. Sejak kecil, Ratu Zaleha telah menunjukkan keberanian dan kecerdasan di atas rata-rata.
Ketika Perang Banjar pecah pada pertengahan abad ke-19 yang melibatkan masyarakat Banjar dan suku Dayak melawan Belanda, Ratu Zaleha turut terlibat dalam perjuangan. Perannya sebagai wanita muda di tengah peperangan menjadikannya sebagai sebuah simbol kekuatan.
Salah satu ciri khas perjuangannya adalah kemampuannya menggerakkan perempuan Dayak, seperti Bulan Jihad dan Illen Masidah, untuk ikut serta dalam perlawanan.
Pada 1905, benteng utama para pejuang Banjar di Manawing jatuh ke tangan Belanda. Kondisi semakin sulit setelah Sultan Muhammad Seman gugur dalam pertempuran.
Meski kehilangan pemimpin utamanya, Ratu Zaleha tetap melanjutkan perjuangan, Ia menunjukkan keberanian luar biasa meski situasinya semakin terdesak.
Setelah jatuhnya benteng Manawing dan situasi perang semakin tidak menguntungkan, Ratu Zaleha menghadapi tekanan yang luar biasa dari Belanda. Suaminya, Gusti Muhammad Arsyad, yang juga menjadi salah satu tokoh dalam perang tersebut, menyerah kepada Belanda.
Namun, Ratu Zaleha tetap bertahan dalam perjuangannya meski kesehatannya mulai menurun akibat kondisi perang yang berat. Pada 1906, menyadari kondisi fisiknya yang memburuk dan kesulitan yang dihadapi pasukannya, Ratu Zaleha memutuskan untuk menyerahkan diri kepada Belanda. Ia kemudian diasingkan ke Bogor, Jawa Barat, bersama keluarganya.
Selama masa pengasingan, Ratu Zaleha tetap dikenang sebagai simbol keberanian dan kegigihan rakyat Banjar dalam melawan penjajah. Setelah beberapa dekade atau pada tahun 1937, Ratu Zaleha kembali ke kampung halamannya di Kalimantan Selatan.
Ia hidup tenang hingga akhir hayatnya pada 24 September 1953. Jenazahnya dimakamkan di kompleks makam raja-raja Banjar di Kota Banjarmasin, sebuah penghormatan atas peran besarnya dalam sejarah perjuangan bangsa. (*)



