Kaltim Bidik Nilai Tambah Industri Sarang Walet

Penandatanganan Kesepakatan Bersama dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) dan Pemprov Jawa Tengah (Jateng) telah dilakukan.

WAKIL Gubernur (Wagub) Kaltim Seno Aji menegaskan perlunya segera menindaklanjuti kesepakatan tersebut. Khususnya dengan menjajaki peluang investasi yang dapat memberikan manfaat bagi kedua daerah.

Hal itu disampaikannya usai meninjau perusahaan pengolahan sarang burung walet, PT Esta Indonesia Tbk (NEST), di Terboyo Industrial Park, Kota Semarang, Jateng, akhir pekan kemarin.

“Dari kesepakatan bersama tersebut kita ingin ada nilai tambah bagi Kaltim. Karena Kaltim ini punya raw material sarang burung walet yang besar,” urainya, seperti dikutip dari laman resmi Sekretariat Daerah (Setda) Kaltim.

Dalam kunjungan tersebut, Seno Aji diterima langsung Direktur Utama (Dirut) sekaligus pendiri PT NEST, Hoo Anton Siswanto, bersama Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jateng, Sakina Rosellasari, dan Kepala Bidang (Kabid) Pengawasan DPMPTSP Jateng, Primasto Adi Wartono.

Seno Aji mendengarkan paparan mengenai proses bisnis perusahaan sekaligus melihat langsung tahapan pengolahan sarang burung walet. Mulai dari pencucian bahan baku hingga proses pengemasan sebelum diekspor ke sejumlah negara. Perusahaan tersebut telah beroperasi sejak 1993.

“Melalui kunjungan ini, kita berharap ke depan PT Esta Indonesia sebagai investor pencucian dan eksportir sarang walet bisa membangun fasilitas pencucian untuk ekspor langsung sarang walet di Kaltim,” ulasnya.

“Apakah nanti bekerja sama dengan perusahaan daerah atau bagaimana pola investasinya, tentu bisa kita rundingkan,” timpal Seno Aji.

Bagi Seno Aji, sebagai salah satu daerah penghasil sarang burung walet, Kaltim perlu mendapatkan nilai tambah yang lebih besar dari komoditas tersebut. Kehadiran industri pengolahan di daerah dinilai dapat meningkatkan nilai ekonomi komoditas sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan daerah.

“Nilai omzetnya ternyata cukup menggiurkan, sekitar Rp50–60 miliar per bulan. Ini tentu menjadi nilai tambah yang bisa meningkatkan pendapatan daerah Kaltim ke depan,” ucapnya.

“Yang bagus lagi, tenaga kerja yang dibutuhkan sangat banyak sehingga kita bisa mengurangi pengangguran di Kaltim,” imbuh Seno Aji.

Sementara itu, Dirut PT Esta Indonesia, Hoo Anton Siswanto, menyambut baik keinginan Wagub Kaltim Seno Aji untuk menjajaki investasi pembangunan fasilitas pencucian dan pengolahan sarang burung walet di Kaltim.

Anton mengatakan, PT Esta Indonesia saat ini telah memiliki sejumlah rumah burung walet di Kaltim. Antara lain di Handil, Muara Badak, Marangkayu, dan beberapa daerah lainnya.

“Kami siap bekerja sama. Bisa kirim orang ke sini untuk pelatihan, akan kita ajari, kemudian bisa kembali ke Kaltim untuk menerapkan ilmunya,” ungkapnya.

“Bisa cari lahan yang di sekitarnya banyak tenaga kerja, kemudian kita bangun pabrik pencucian serta pengolahan sarang burung walet di Kaltim,” sambung Hoo Anton Siswanto. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button