Jejak Sarung Samarinda di Pentas Dunia: Dari Los Angeles sampai ke Milan (2-Habis)
Dalam rangkaian Rakernas XVIII APEKSI 2026, Rinda Wahyuni didapuk menjadi pembicara Ladies Program. Ia menyoroti pengembangan Sarung Samarinda sebagai salah satu wastra unggulan dan identitas budaya Kota Tepian.
Ketua TP PKK Kota Samarinda sekaligus Ketua Dekranasda Samarinda itu meminta,Sarung Samarinda harus terus dilestarikan sekaligus dikembangkan melalui berbagai inovasi.
Baginya, Sarung Samarinda merupakan warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan memiliki nilai historis serta filosofis yang kuat bagi masyarakat Samarinda. “Seiring perkembangan zaman, berbagai motif baru terus dikembangkan dengan inspirasi dari kekayaan alam, sejarah, dan budaya Kaltim (Kalimantan Timur, Red.),” ulasnya, seperti dilansir dari laman resmi PPID Samarinda.
Beberapa motif yang kini berkembang antara lain motif Pakis yang melambangkan pertumbuhan, kehidupan, dan ketangguhan, serta motif Mahakarya Tetua. Ini menggambarkan penghormatan terhadap nilai-nilai kearifan lokal dan warisan leluhur. Inovasi juga dilakukan melalui penggunaan pewarna alam yang ramah lingkungan.
“Berbagai bahan alami dimanfaatkan untuk menghasilkan warna-warna khas yang tidak hanya indah, tetapi juga mencerminkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan dan keberlanjutan industri tenun daerah,” urainya.
Kini, Sarung Samarinda tidak hanya digunakan sebagai busana tradisional ataupun fungsi sebagai sarung. Beragam kreasi telah lahir mulai dari busana formal, outer, tas, hingga berbagai aksesori modern yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Untuk memperkuat penggunaan produk lokal, Dekranasda Samarinda juga menginisiasi berbagai kegiatan kreatif. Di antaranya lomba fashion batik yang melibatkan ASN dan kelurahan, serta lomba fashion Sarung Samarinda yang digelar di Bigmall Samarinda sebagai wadah memperkenalkan tenun khas daerah kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Rinda menegaskan, berbagai program yang dijalankan Dekranasda tidak semata-mata bertujuan melestarikan budaya. Namun juga membuka peluang ekonomi bagi para pengrajin, pelaku UMKM, dan industri kreatif lokal.
“Budaya adalah kekuatan dan kreativitas adalah jalan menuju kesejahteraan. Karena itu kami terus mendorong kolaborasi, inovasi, dan pemberdayaan agar warisan budaya yang dimiliki Samarinda tetap lestari sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” tandasnya.
Melalui forum Rakernas APEKSI 2026 tersebut, Rinda berharap pengalaman Kota Samarinda dalam mengembangkan ekonomi kreatif berbasis budaya dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain. Khususnya untuk terus menggali potensi lokal sebagai bagian dari strategi pembangunan. (habis)



