LIPUTAN KHAS TAN MEDIA: Empat Generasi Menganyam Ketupat di Samarinda
Kampung Ketupat dikenal sebagai salah satu permukiman di tepian Sungai Mahakam --Kota Samarinda-- yang lekat dengan tradisi membuat cangkang ketupat.
JAUH hari sebelum membawa cangkang ketupat menggunakan sepeda motor seperti sekarang, keluarga Amay (47) dan Adelin (42) terbiasa mengangkutnya dengan perahu.
Cerita itu bermula dari sang datuk. Ketika itu, kata Amay, Sungai Mahakam masih diseberangi menggunakan perahu kecil yang digerakkan dengan dayung. Sang datuk menjajakan cangkang ketupat dengan cara menyusuri sungai.
“Dulu datuk menyebrang masih pakai dayung. Sekali berangkat, sekitar 3.000 ketupat yang sudah dianyam dapat dibawa menggunakan perahu. Berangkat habis subuh, pulang sore,” cerita Amay, saat dijumpai TAN Media di sela-sela membuat ketupat.
Dari sungai, kata Adelin, cangkang-cangkang itu ditawarkan kepada pedagang di sejumlah pasar. Cara tersebut kemudian diteruskan oleh generasi berikutnya. Pada masa ayah Amay dan Adelin, perahu dayung telah berganti menjadi perahu ketinting.
“Waktu abah yang meneruskan, sudah ada mesin kapal. Jadi abah menyebrang bawa ketupat itu kapal sudah pakai mesin,” jelas Adelin, saat mengenang masa itu.
Kini, tradisi itu berubah mengikuti zaman. Perahu yang dahulu digunakan keluarga mereka sudah dijual. Kehadiran jembatan membuat mereka tidak lagi bergantung pada perahu untuk membawa dagangan.
Cangkang ketupat kini dibawa menggunakan sepeda motor. Cara menjualnya pun berubah. Jika dahulu harus berkeliling dan menawarkannya kepada pedagang pasar, kini Amay dan Adelin mengantarkan pesanan kepada pelanggan tetap.
“Kalau sekarang sudah ada yang langganan, jadi tinggal telepon terus diantar. Di satu pasar itu bisa 10 penjual. Terus ada beberapa pasar. Mulai dari Pasar Sungai Dama, Pasar Ijabah sampai Pasar Segiri. Tapi ke Pasar Segiri agak jarang, karena jauh,” terang Amay.
Meski cara berdagang berubah, keterampilan membuat cangkang ketupat tetap diwariskan. Amay dan Adelin merupakan generasi keempat keluarganya yang menjadi pengrajin ketupat. Mereka belajar dari orang tua dengan cara sederhana: melihat, memperhatikan, kemudian mencoba sendiri.
Amay bahkan tidak lagi mengingat kapan pertama kali bisa menganyam ketupat. Sementara Adelin masih mengingatnya dengan jelas. Ia mulai membantu ayahnya menganyam ketupat sejak duduk di kelas III sekolah dasar.
Tidak ada yang secara khusus mengajarkan teknik menganyam kepada keduanya. Mereka hanya mengamati tangan sang ayah, lalu mempraktikkannya. Kini, Adelin justru dikenal lebih piawai menganyam dibanding sang kakak.
“Dia (sambil menunjuk Adelin) memang cepat bikinnya, dari dulu,” aku Amay. Kemampuannya terlihat ketika ia menunjukkan cara membuat satu cangkang ketupat. Dalam waktu sekitar 20 detik, sebuah anyaman sudah terbentuk.
Menurut Adelin, waktu tersebut sebenarnya masih tergolong lambat. Penglihatannya tidak lagi setajam ketika masih muda. Saat remaja, ia mampu menganyam sekitar 1.000 cangkang ketupat dalam sehari. Kini, untuk menyelesaikan 2.000 cangkang, ia membutuhkan waktu sekitar tiga hari.
“Sekarang saya sudah tua. Tangan sudah tidak selincah dulu, penglihatan juga sudah agak kabur,” ulas Adelin.
Empat generasi telah berlalu. Sungai yang dulu diseberangi dengan perahu dayung kini memiliki jembatan. Perahu ketinting yang pernah digunakan untuk membawa ribuan cangkang ketupat juga sudah tak lagi menjadi bagian dari pekerjaan mereka.
Cara berdagang berubah, kendaraan berganti, dan zaman terus bergerak. Namun, keterampilan yang diwariskan dari sang datuk masih bertahan di tangan Amay dan Adelin.
Pekerjaan yang bermula dari tepian Sungai Mahakam itu masih terus berjalan, mengikuti perubahan zaman tanpa sepenuhnya meninggalkan cara yang diwariskan keluarga. Meski begitu, keduanya berharap tradisi membuat ketupat dapat diteruskan.
“Maunya sih dilanjutkan anak. Tapi zaman sekarang susah. Anak-anak kan sudah punya tujuan masing-masing. Tapi semoga masih ada yang lanjutkan nanti” urai Amay. (na)



