Tren TikTok “Di Balik Foto Ini”: Perempuan Didorong Memproduksi Versi Terbaik

Platform seperti TikTok dan Instagram secara sistemis mengganjar konten yang “cantik” dan “positif”. Akibatnya, perempuan tidak hanya berkompetisi dengan sesamanya, tetapi harus bernegosiasi dengan logika platform digital untuk mendapatkan validasi.

PEREMPUAN terdorong untuk terus-menerus memproduksi versi terbaik dari diri mereka, bukan hanya untuk diterima secara sosial, tapi untuk diterima secara visual dalam ekosistem digital.

Sudah dituntut untuk bekerja keras demi bertahan hidup, masih juga harus terlihat cantik, bahagia di medsos. Sebelum era digital, perempuan dinilai oleh lingkungan sekitar (keluarga, tetangga, teman kerja). Sekarang, mereka tambah dinilai oleh algoritma. Dan algoritma tidak punya empati. Ia hanya tahu konten yang “cantik” dan “bahagia” mendapat lebih banyak views, likes, dan engagement.

Melalui lensa feminis, kita belajar bahwa fenomena ini bukan soal konsumerisme dangkal, tapi soal strategi bertahan dalam sistem yang menindas. Foto di kafe estetik adalah cara mereka untuk berkata “Aku ada. Aku juga pantas mendapat kebahagiaan.” Ini adalah resistensi kecil terhadap invisibilitas dan devaluasi yang mereka alami setiap hari. Tapi foto kedua, foto kondisi kerja, menggunakan seragam, adalah kritik struktural.

(FOTO-FOTO: Ist)

Ia mengingatkan kita bahwa di balik setiap performance kebahagiaan di media sosial, ada sistem eksploitasi yang perlu dibongkar. Mereka bukan mencari simpati, tapi mengajak kita membuka mata, di balik setiap foto estetik yang kita scroll, mungkin ada seseorang yang bekerja 12 jam dengan gaji tak layak. Fenomena ini adalah bentuk coping mechanism kolektif. Cara anak muda, terutama perempuan, untuk melupakan penderitaan mereka sendiri agar tidak tenggelam di dalamnya.

Jadi, daripada menghakimi mereka karena “makan di tempat mahal padahal gajinya kecil”, lebih baik kita bertanya: Mengapa sistem ini membuat mereka harus memilih antara bertahan hidup atau merasa berharga? Mengapa tidak bisa keduanya? (habis/ika ariani/konde.co)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button